Chaos (Again)
“It has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the world.”
Chaos Theory
Karena hidup hanyalah sebuah paradoks. Hanya bagaimana anda menerimanya
Menggugat Waktu

Seberapa lama anda dapat menipu sang waktu? 1 detik, 5 menit atau bahkan 1 tahun. Yang saya tahu waktu itu absolut, konstan dan tidak dapat di ganggu gugat. Waktu adalah sebuah dimensi, manifestasi dari paranoia manusia akan gerak lurus. Menipu sang waktu berarti membelokkan garis menuju suatu titik fluktuasi.
Seperti selayaknya, saya menipu sang waktu dengan meyakinkan. Membunuh jarum – jarum yang berputar tanpa dosa. Memperoleh sebuah dunia tanpa batasan detik, menit dan jam. Saya bahagia di dalamnya, walau tangan saya berlumur angka.
Jadi seberapa lama anda dapat menipu sang waktu?
Rebirth

Sebagian orang percaya akan kehidupan. Sebagian lagi percaya akan kematian. Jika anda bertanya ada di sisi mana saya, terombang – ambinglah jawabnya. Saya berada dalam dimensi mengutuki kehidupan namun juga fobia akan kematian. Bukankah hidup adalah hadiah dan kematian adalah pilihan? Saya menghunus pisau untuk membunuh orang – orang yang mengotori kesucian kematian.
Hanya sedikit orang yang di beri kesempatan kedua. Beberapa lebih memilih menutup mata dan terlena. Mereka yang mendapat kesempatan kedua membangun kembali dimensinya, menyalakan kembali intuisinya dan mengembalikan arahnya.
Obituari saya hampir saja terpasang disini, jika saja saya menuruti simfoni itu. Saya terbangun sekarat dan berlumuran darah. Nyanyian selamat malam mendengung semakin kencang. Membuka mata setelah sekian lama adalah tembok.
Mata saya kembali terbuka, masih setengah tapi tak akan tertutup lagi. saya kembali membangun segi yang telah roboh tersapu angin, menata dimensi dan menyalakan kembali cahaya. Bukankah cahaya lilin di kegelapan selalu memberi ketenangan?
” . . . saya kembali membawa cahaya untuk kalian yang butuh gelap”
Kembali?Bukan,Hanya Selingan
Halo semua

Berapa lama saya mati? (pura-pura tidak tahu)
Oke,2 minggu. Kepala saya sudah tidak bisa di ajak kompromi rupanya. Selain menghambat manifestasi ide, saya pun sudah bermusuhan dengannya. Menyusahkan, musuh terbesar saya ada di atas tubuh saya sendiri.
Yap,kembali ke hidup. Datang ke twitter saya ya teman – teman
.
There I Was,Now Here I’m
“Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why we call it ‘The Present’.”
Eleanor Roosevelt
Masih bisa menapakkan kaki di tanah, menghirup oksigen seperti biasa, mengetik dengan 10 jari dan sesekali mengalami fluktuasi dalam hidup, sudah merupakan hadiah yang luar biasa bukan?
Episode 18
Mari sedikit bicara tentang ironi. Bukan isolasi seperti biasa. Atau sedikit tentang delusi yang kita percaya. Anda akan menganggap saya tidak waras,pasti. Bagaimana bisa saya mengingkari waktu dan kesempatan yang terhampar? Mungkin sedikit kebodohan akan mengajari saya, lagi-lagi mungkin.
Bukankah kita tidak bisa menggugat sesuatu yang tidak kita miliki atau seharusnya tidak kita miliki. Ada satu jalan yang menuju ke sana mungkin, tapi anda tahu? Satu bukan berarti benar dan dua tidak lebih membantu. Mundur juga bukan alasan, kita tidak bicara tentang perspektif, walau interpretasi tiap orang berbeda.
Persepsi yang aneh ya. Bila anda bisa sedikit melihat ke dalam, anda bisa lihat apa yang kita sebut dengan kesendirian
. Berbeda dengan kebodohan, yang satu ini lebih mematikan. Daya bunuhnya setara dengan bom atom di mulut anda.Cukup untuk mereformasi? Tidak, pastinya akan terjadi involusi.
Baiklah, sampai di mana hidup?
Goodbye Chaos
“I accept chaos, I’m not sure whether it accepts me.“
Bob Dylan
Kenyataannya mereka tidak pernah menerima saya. Paradoks, anda tahu?
Mulut Kita Masih di Selotip,Tangan Kita Masih di Ikat
Membaca kasus yang di alami Bu Prita membuat saya sedikit tertawa (kemudian tersenyum sinis). Bukan berarti menertawakan Bu Prita, tetapi menertawakan wajah-wajah buram manusia negara anda ini. Ternyata budaya anti kritik masih hidup di dalam tubuh mereka. Mungkin mereka di RS Omni harus menutupi mukanya dengan kantung plastik.
Pada kenyataannya kebebasan berpendapat yang di coretkan dalam UUD masih belum berhasil atau malah belum berjalan. 63 tahun periode -hampir 64 tahun- negara anda merdeka, mulut kami yang menyuarakan kritik masih di selotip dan tangan kami yang menuliskan kebenaran masih di ikat. Kami masih belum bebas, dan kebebasan yang mereka coretkan adalah palsu.
Menyampaikan pendapat sebenarnya adalah hak dan menerima kritik adalah sebuah kemauan yang cenderung pada kewajiban. Bila tidak mau menerima kritik bagaimana anda bisa merubah wajah anda? Mungkin RS Omni lebih suka berjalan dengan wajah bopeng ya.
Pemerintah anda pun terkesan lepas tangan atau bahkan sudah lepas tangan mungkin. Yah mana ada waktu untuk mengurusi, sementara kampanye harus terus berjalan. Atau mereka malah mau menjadikan momentum ini sebagai panggung politik. Lumayan kan untuk menambah popularitas menjelang pemilu.
Kebebasan kita belum di lindungi secara benar. Dan pihak-pihak seperti RS Omni berusaha memanfaatkan hal ini. yang kita butuhkan hanyalah kebebasan yang di lindungi, terutama oleh pemerintah sendiri. Sementara mulut saya masih di selotip dan tangan saya masih di ikat, saya harus belajar menulis menggunakan kaki.
Pada akhirnya secara pribadi saya menyatakan dukungan saya pada Bu Prita. Semoga kasus anda cepat selesai dan kebebasan berpendapat bukan lagi sebuah omong kosong.
Selesai . . .
Setelah sempat terbangun di postingan sebelumnya, kini saya kembali mati suri. Sebenarnya bukan sengaja mati tapi terbunuh oleh waktu dan keadaan. Dan terlena di dalamnya adalah sebuah paksaan sekaligus keharusan
. Beban yang menumpuk sebelum pertempuran terakhir membuat saya harus memutar otak hanya untuk menyelesaikan semua yang tertunda
.
Kefanatikan saya akan kemalasan akhirnya menuai hasil yang fantastik. Terjebak kenyataan bahwa catatan pelajaran saya tidak cukup untuk menghadapi tes yang sebenarnya adalah konsekuensi yang harus saya terima. Dan kembali membuang kertas untuk memanipulasi catatan menjadi makanan rutin saya. Saya hampir meledak termakan situasi ini
.
Fluktuasi yang saya alami ini menyeret saya ke dalam rutinitas mematikan. Untuk sekedar mencari waktu untuk menulis seperti ini saja saya harus membohongi waktu
. Beruntung sampai sekarang mereka belum sadar juga. Dan maaf bagi anda semua, saya masih belum bisa kembali sepenuhnya, mungkin 1 atau 2 minggu lagi saya akan bereinkaranasi sepenuhnya. Jadi anggaplah postingan ini sebagai pengganjal kepala anda saja. Oke, saatnya kembali pada rutinitas, kelihatannya sang waktu sudah sadar bahwa dia sedang saya bohongi
.
Terbangun Lagi
Cukup lama juga saya “mati”. Mungkin waktu dan keadaanlah yang telah membunuh saya. Tidak secara langsung, tetapi secara perlahan-lahan. Dan semua itu berhasil, saya merasa perlahan mulai terbunuh dan hampir tidak dapat bangkit lagi.
Beruntung sebelum terlambat, saya masih teringat untuk terbangun. Membuka mata dan kembali melanjutkan apa yang saya tinggalkan. Memang saya belum sepenuhnya terbangun, masih ada sedikit ruang dalam dimensi saya yang hampa. Namun cepat atau lambat saya akan benar-benar membuka mata. Dan di sinilah saya terbangun kembali.

They Said